kenaikan elpiji 12 kilogramAwal tahun ini pemerintah memberikan 3 kado yang cukup menghebohkan masyarakat, “kado” terakhir adalah ditahannya AU yang menyebut penahanannya oleh KPK adalah kado tahun baru. Sebelumnya ada kado dengan penangkapan teroris di Ciputat, yang entah kenapa teroris yang katanya terorganisir dan sangat berhati-hati kok tiba-tiba ngumpul di satu tempat dan mudah digrebek sama densus 88. Anehnya lagi bom yang katanya dibuat dengan canggih, dengan bahan-bahan rahasia tapi bisa ketinggalan di warteg.

Tapi kado yang langsung mengena kepada seluruh masyarakat adalah kenaikan elpiji 12 kg Rp. 3959,- per kilogram. 

Seperti diberitakan, PT Pertamina Tbk per 1 Januari 2014 menaikkan harga elpiji nonsubsidi tabung gas 12 kg sebesar 68 persen atau sekitar Rp 3.959 per kg. Dengan harga itu, kenaikan per tabung elpiji 12 kg menjadi Rp 117.708 per tabung. Sebelum kenaikan, harga per tabung Rp 70.200.
Menurut Pertamina, kenaikan harga itu dilakukan untuk menekan kerugian bisnis elpiji 12 kg yang rata-rata mencapai Rp 6 triliun per tahun. Harga pokok perolehan elpijinya disebut sudah mencapai Rp 10.785 per kg. (kompas, 4 januari 2013).

Kenaikan LPG dari 78.000 menjadi 124.000 di pasaran menimbulkan peningkatan permintaan gas 3 kg yg disubsidi pada akhirnya stok gas 3 kg habis dilapangan (krn over demand).Langkah berikutnya adalah menaikkan harga 3kg dengan alasan disparitas harga antara 3kg dengan 12kg,penimbunan dsb.Strategi ini sama dengan kenaikan bbm premium/solar beberapa tahun lalu yg membandingkan disparitas harga nasional dengan regional(ASEAN).Pertanyaan yg menggelitik benak saya, Bukankah APBN habis ratusan miliar untuk lapindo yg menyemburkan gas “gratis” bahkan sempat menjadi alat bantu masak korban lapindo beberapa pekan kenapa tidak dimanfaatkan? ” ahh tidak semudah itu harus ada tabung dsb”kata pakar. “Benar tidak semudah itu,tapi juga tidak sesulit itu kan.Warga lapindo saja bisa kenapa pemerintah tidak?”.